Review "Ghost In The Cell", Kritik Sosial Politik Paling Sadis ala Joko Anwar

by · Kompasiana

Siapa yang tidak kenal dengan salah satu sutradara terbaik Indonesia, Joko Anwar yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan "Bang Joko". Tahun ini ia kembali mengeluarkan karya terbaru dengan judul "Ghost In The Cell", film ini serentak tayang pada tanggal 16 April 2026 di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

Film Ghost In The Cell menceritakan tentang sebuah penjara yang terkenal dengan kehidupan yang jahat, lalu muncul sesosok arwah gentayang yang datang untuk menebar teror yangs angat mengerikan di dalam penjara. Para tahanan  terbunuh secara sadis dan brutal. Situasi ini akhirnya membuat geng-geng yang ada didalam penjara, awalnya bermusuhan dan penjaga yang korup bekerjasama demi bertahan hidup.

Pemeran yang direkrut oleh Bang Joko juga tidak kaleng-kaleng, semua pemain diisi oleh nama-nama besar. Sebut saja Abimana Aryasatya, Aming, Tora Sudiro, Kiki Narendra, Bront Palarae, Yoga Pratama, Mike Lucock, Arswendy Beningswara, Endy Arfian, Lukman Sardi, Morgan Oey, Dimas Danang, Dewa Dayana, Marissa Anita, Rio Dewanto dan Radja Nasution.

Film Ghost In The Cell merupakan genre horror komedi, dengan durasi sekitar 1 jam 46 menit. Film ini sangat layak dan wajib ditonton oleh seluruh penikmat film tanah air tapi untuk usia 17 tahun ketas, dijamin tidak bakalan kecewa karena sekeren dan sebagus itu filmnya. Berikut review yang akan saya uraikan menurut pendapat saya sendiri.

Adegan perkelahian antara Morgan dengan Abimana yang seru tapi lucu (sumber gambar : IMDb)

Review Film Ghost In The Cell karya Joko Anwar

Dari pemaparan synopsis singkat yang sudah saya tulis diatas, penjara yang memiliki keamanan tingkat tinggi dibawah kawalan sipir yang semena-mena. Berubah jadi sebuah ancaman teror yang gila dengan munculnya serangkaian pembunuhan yang sangat mengerikan dan sadis.

Tidak sampai disana, mayat-mayat yang menjadi korban pembunuhan tersebut dibuat sebuah pajangan yang memiliki arti yang sangat mengerikan dan bikin kita mual untuk melihatnya. Maka film ini tidak cocok untuk para anak-anak dan orang-orang yang memiliki traumatis dan takut akan darah.

Selama lebih kurang hampir dua jam di dalam bioskop, film ini sangat berhasil dalam membuat saya tetap melek dan tidak menutup mata sedetik pun agar tidak ketinggalan dengan adegan-adegan yang lainnya.

Konflik yang datang secara beruntun tapi tidak terburu-buru membuat kita bisa menikmati dan memahami setiap apa yang ingin disampaikan oleh sang sutradara kepada seluruh penontonnya. Tidak heran juga plot twist dari permasalahan juga lumayan menggelitik tapi menarik untuk diikuti sampai film ini berakhir.

Jajaran pemain yang membintangi film Ghost In The Cell, sangat patut diberikan apresiasi yang setinggi-tingginya. Mereka melakukan setiap adegan dengan all out dan totalitas banget. Contoh seperti Aming yang memerankan tokoh bernama Tokek, si penikmat seks yang brutal dan bengis, sangat layak diperankan dengan baik oleh Aming. Walau rada kecewa karena adegannya sebentar saja dan tidak begitu banyak.

Tidak kalah juga dengan pemain lain seperti Abimana, Morgan Oey dan Tora Sudiro yang begitu apik dalam memerankan tokohnya yang menjadi benang merah didalam penyelesaian konflik bersama Andy Arfian dan Yoga Pratama.

Joko Anwar tidak lupa juga menyisipkan adegan komedi yang lumayan bikin saya dan penonton lain terpingkal-pingkal ketawa melihat adegan yang lumayan lucu dan sangat lucu. Tidak heran film ini berhasil meraup 154.279 penonton dihari pertama penayangannya di bioskop seluruh Indonesia.

Sinematografinya tidak perlu ditanyakan lagi karena semuaorang tahu bagaimana kualitas dari seorang Joko Anwar dalam memberikan tampilan warna dan kualitas film luar biasa epic dan bagus sekali. Ditambah dengan bantuan teknologi kamera CGI yang membuat setiap adegan pembunuhan menjadi nyata dan real bikin ketkutan dan teror luar biasa kepada penontonnya.

Scoring dan pilihan lagu yang ditampilkan dalam film Ghost In The Cell juga sangat mendukung sekali dengan setiap scene yang ditampilkan. Tak heran semua penonton pada waktu itu terhipnotis dengan semua paket complete yang memuaskan harapan penonton dengan banyaknya pujian akan film ini yang sangat luar biasa animonya di dalam negeri maupun luar negeri.

Secara keseluruhan saya memberikan rating : 9/10. Semua komponen dalam film ini paket lengkap. Alur cerita yang matang dan dipikirkan dengan sangat baik, pemilihan karkater pemain yang luar biasa, kualitas sinematografi yang tidak kaleng-kaleng membuat penonton puas dengan hasilnya dan ditambah scoring dan lagu yang mewakili dari setiap adegan yang ditampilkan terasa pas dan tepat sasaran.

Film Ghost In The Cell memang layang masuk ke dalam jajaran film Box Office yang ada di tanah air. sampai saat ini jumlah penonton terus bertambah dan clip potongan dari adegan film juga masuk ke dalam FYP di seluruh platform media sosial. Terhitung jumlah penonton film Ghost In The Cell sudah mencapai 1 juta penonton lebih. Wow congratulation buat seluruh crew dan cast yang berhasil menyuguhkan tontonan yang fresh dan bermakna.

Karakter Tokek yang diperankan oleh Aming (sumber gambar : IMDb)

Kritik Sosial Politik Paling Sadis ala Joko Anwar

Saya sangat menyukai orang-orang yang ingin menyampaikan aspirasinya melalui bidang yang dikuasainya. Salah satu contoh adalah apa yang dilakukan Bang joko Anwar di film Ghost In The Cell. Dia sangat jenius dan pintar sekali didalam hal ini, hampir setiap filmnya ada menyisipkan beberapa isu yang ingin ditampilkan dan disuarakan olehnya.

Kalian pembaca setia kompasiana akan mengerti dan paham dengan apa yng saya maksud setelah menonton film ini dengan segera, karena film ini layak dan sangat pantas untuk diberikan tempat tertinggi di dalam dunia perfilman Indonesia yang semakin hari semakin berani dalam melakukan eksperimen berani seperti ini.

Dalam setiap kematian penghuni penjara di dalam film Ghost In The Cell, sellau ditampilkan mayatnya dengan pajangan yang penuh arti dan makna tersirat yang terlalu dalam untuk kita resapi. Setelah itu baru kita sadar masing-masingnya mewakili apa yang sedang terjadi di negeri kita tercinta ini yaitu Indonesia.

Keserakahan, ketidak adilan dan nafsu hingga ambisi yang terlalu tinggi membuat kita lupa diri dan banyak sekali melakukan kesalahan yang fatal hingga merugikan banyak orang yanga da disekitar kita. Ini tidak perlu dicontoh tapi dijadikan bahan renungan kita setelah melihat film besutan Joko Anwar di Ghost In The Cell.

Salah satu yang menajdi pikiran bagi saya setelah menonton film ini, ada satu adegan Kepala Lapas yang memberikan hak istimewa kepada narapidana kasus korupsi. Mereka seperti menjilat dan bermanis muka untuk bisa memberika fasilitas agar segala kebutuhannya dapat dipenuhi oleh si pelaku koruptor dengan menjual harga diri dan integritas.

Jika hal ini memang terjadi didalam kehidupan aslinya , sungguh sangat disayangkan dan pantas saja bangsa ini seperti negara yang sedang sakit kanker dengan status stadium akhir yang menunggu kematian ajalnya sebentar lagi diambil. Sungguh ironi tapi nyata adanya di kehidupan saat ini.

Saya patut mengapresiasi karya dari keberanian Joko Anwar dalam mengangkat isu-isu konflik sosial politik yang kerap menajdi ladang basah untuk para pelaku kriminalitas untuk membeli hukum dana pa pun di negeri ini sesuka hati mereka, selagi uang masih menajdi alat transaksinya.

Adegan paling brutal yang disaksikan langsung oleh narapidana (sumber gambar : IMDb)

Pembaca akan memahami betul apa yang saya maksud dengan penjabaran ilustrasi yang singkat tanpa harus spoile dengan isi filmnya. Lebih baik kalian segera menikmati karya yang luar biasa ini untuk dinikmati bersama orang-orang terdekat anda. Saya ingatkan kembali, bahwa film ini tidak untuk anak kecil dan harus berusia 17+.

Saya berharap film ini mampu bertahan lama dilayar bisokop agar semua orang mulai paham dan sadar akan isu seperti ini. sampai kapan kita mau dibodohi para pejabat bangsa yang kelakuan dan ucapannya sangat tidak sinkron dan jauh berbeda dengan apa yang diucap, dengan apa yang ingin dilakukannya.

Saya salut sekali lagi dengan Bang Joko dengan karyanya kali ini, saya mengagumi setiap karya yang dilahirkan dari pemikirannya. Tidak lupa juga diawal film ini Joko Anwar juga merilis sebuah informasi baru yaitu Film Pengabdi Setan 3 akan segera di produksi dan siap-siap untuk kembali memasuki pertualangan baru dari karya Joko Anwar yang berikutnya.

Salam inspirasi dans elalu maju dunia eprfilman Indonesia,

By Irfan Fandi

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Entertainment Selengkapnya
Selanjutnya
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
Lihat Semua Komentar (1)